Tangier (Maroko, Part 7)


Kota ini mirip kota – kota di Eropa. Tak heran, letaknya sangat dekat dengan Spanyol. Hanya dipisahkan satu selat sempit, berjarak 9 mil saja. Dengan kapal cepat, Spanyol bisa dicapai dalam waktu 30 menit. Untuk sebagian turis, mereka beranggapan bahwa Tangier lebih cocok dikategorikan sebagai kota Eropa daripada sebuah kota di Maroko.

Spanish Institute, Tangier, Morocco
Spanish Institute, Tangier, Morocco

Menuju ke Tangier, aku masih menggunakan kereta api. Salut dengan sistem transportasi kereta api di Maroko. Hampir semua kota dapat dicapai dengan si ular berasap ini. Indonesia, jelas kalah dalam hal ini. Dari Meknes, hanya dibutuhkan 3 jam perjalanan. Untuk jadwal dan harga tiket kereta bisa di check di ONCF.

Aku tidak menginap di Riad, melainkan di hotel Ibis City Center. Dengan pertimbangan, hotel ini dekat sekali dengan stasiun kereta api Tangier. Akan sangat memudahkanku, apalagi di hari berikutnya aku akan menggunakan kereta malam untuk meluncur ke Marrakech. Selain itu, Ibis juga dekat dengan kawasan Corniche Tangier. Jadi, aku bisa jalan – jalan di pantai tanpa perlu transportasi, Tak banyak yang bisa diceritakan mengenai hotel Ibis. Kamarnya standard, seperti Ibis kebanyakan.

Corniche Tangier, berupa kawasan water front. Dengan jalan – jalan menyusuri pantai. Di sisi lain jalan, berjejer restoran, café, hotel, dan apartemen mewah untuk kaum elit. Bangku – bangku kayu disediakan di sepanjang pantai untuk pejalan kaki yang mau melepas lelah. Pasangan muda mudi dan keluarga turut meramaikan keriuhan pantai. Beberapa remaja, membawa kuda, menawarkan tumpangan untuk berkuda di sepanjang pantai. Mulai bosan dengan couscous, aku menyantap makan sore (merangkap makan malam) di Mc Donald, dengan lantunan musik dari Spanyol.

Tangier beach di sepanjang Corniche.
Tangier beach di sepanjang Corniche.

Esoknya, pukul 9 pagi, aku check out dari hotel. Aku hanya punya waktu satu hari untuk melihat wajah kota Tangier. Jika tak bergegas, waktu akan terbuang sia – sia. Tujuan pertama adalah Kasbah Museum.

Datang ke museum ini, aku menggunakan petite taxi. Museum ini letaknya di tengah medina, Tangier. Namun, tak seperti medina di Fes maupun Meknes, Medina di Tangier memiliki jalan yang cukup lebar, sehingga bisa dilalui mobil. Begitupun, tetap saja, pak supir tidak menurunkanku di tempat yang seharusnya. Lagi – lagi kendala bahasa. Pak supir petite taxi ini, hanya bisa bahasa Arab. Seorang remaja berusia di bawah lima belas tahun menunjukkan kepadaku letak museum Kasbah. Kebaikan yang akhirnya kuterima dengan penuh sesal.

Kasbah Museum, Tangier, Morocco
Kasbah Museum, Tangier, Morocco
Kasbah Museum, Tangier, Morocco
Kasbah Museum, Tangier, Morocco

Tak terlalu banyak yang bisa disaksikan di dalam museum. Beberapa peta kolonisasi Prancis dan Spanyol di Maroko. Beberapa barang peninggalan yang di pajang di ruang tersendiri. Kamera tidak dizinkan di ruangan ini. Sebuah taman dengan pergola ditumbuhi tumbuhan merambat. Di museum ini, aku bertemu dengan seorang guide bernama Mohamed yang tengah membawa dua orang turis dari Inggris. Dia menawarkan jasa untuk mencarikan seorang guide untukku. Kukatakan, aku tak terlalu berminat mengeksplore Medina Tangier yang sangat kecil sekali jika dibandingkan dengan Fes.  Aku lebih tertarik berkeliling kawasan kota baru dan melihat Cave of Hercules (Gua Hercules).

Mendengar ini, Mohamed bersemangat sekali mempromosikan seorang temannya yang bernama Abdul.

“Pokoknya, kau pasti suka dial ah. Asyik orangnya. Very nice man. Cukup bayar ongkos taci aja. Nanti, dia akan membawamu melewati tempat – tempat bagus dalam perjalanan menuju gua Hercules,”

“Dia bisa bahasa Inggris kan?” tanyaku sempat meragukan. Aku sedang tak berniat untuk teralu berkonsentrasi  berbicara dalam bahasa Prancis.

“Sedikit. Tapi, well, dia bisa bahasa Inggris kok sedikit – sedikit. Kau akan mengerti dia,” terang Mohamed panjang lebar. By the way, Mohamed ini bahasa Inggris nya lancar abis, dengan aksen British pula.

Aku pun sepakat. Hotel Intercontinental adalah meeting pointku dengan Abdul. Menuju ke hotel ini, aku bertemu remaja yang pura pura sudah berbaik hati menunjukkan museum Kasbah. Ketika melihatku lagi, dia sok ‘berbaik hati’ untuk menunjukkan jalan menuju hotel. Aku tak terlalu tertarik, karena Mohamed sudah memberikan sket lengkap untuk mencapai hotel tersebut. Melihat gelagatku yang tak terlalu tertarik, si bocah ini akhirnya hilang sabar. Dia bilang, “Madam. I show you the Kasbah. Give me your Euro,”

Kubilang aku tak punya Euro. Kuberikan sekeping uang logam Dirham. Si bocak menyingkir sambil mengomel – ngomel.

Medina, Tangier, Morocco
Medina, Tangier, Morocco

Abdul muncul di waktu yang telah dijanjikan. Dia bisa berbahasa Inggris, sedikit. Bahkan sedikit sekali. Hanya bisa mengucapkan “How are you?”, “Thank You,”, “I don’t understand”, dan “Good”. Ok, mungkin bisa kuatur dengan bahasa Prancis ku yang pas pasan.

“Vous parlez francais, Monsiour?” tanyaku harap – harap cemas.

“No….,” jawabnya lantang… “No English, no francais… Arabic…. Spanyol…” Oh lala…. Tak ada satupun dari dua bahasa itu yang bisa kumengerti.

Sepanjang perjalanan, si Abdul mengoceh dalam dua bahasa itu. Meskipun kubilang berulang kali bahwa aku tak mengerti sepatah katapun yang diucapkannya. Tentu saja, kukira Abdul pun tak mengerti ketika kukatakan “I don’t understand” atau “Je ne comprend pas”. Jadilah kami berbahasa tarzan di sepanjang perjalanan. Begitupun, si Abdul ini antusias sekali dan sangat berusaha keras supaya aku bisa menikmati perjalanan. Di setiap tempat bagus, dia akan berhenti, menyuruhku berdiri di satu spot, mengambil kamera dari tanganku, dan mengambil fotoku.

“Good, Amiga….” Katanya setiap kali menunjukkan hasil bidikannya.

Tangier memang berbeda dari kota – kota Maroko yang sudah kulewati. Di kota – kota sebelumnya, aura Timur Tengah dan Afrika sangat terasa di gedung – gedung, jalan, maupun orang – orangnya. Di Tangier, hampir semuanya serba bergaya Eropa. Bangunannya di dominasi arsitektur Prancis dan Spanyol. Café – café pinggir jalannya, tertata rapi, menyediakan kopi, pastry, croissant dan macam – macam cookies. Orang – orang berpakaian dengan gaya berpakaian orang Eropa.

Bangunan di Tangier, di dominasi oleh arsitektur dari Spanyol dan Prancis.
Bangunan di Tangier, di dominasi oleh arsitektur dari Spanyol dan Prancis.
Tangier Port, Morocco
Tangier Port, Morocco

Jalanan dari Tangier menuju Hercules Cave mulus sekali. Pemandangannya juga indah. Tak menyesal datang ke sini, meskipun Tangier bukan tujuan utama dari list kunjunganku di Moroko. Kami melewati hutan kecil, dengan pepohonan rindang di kanan kiri jalan. Di siang hari, kawasan ini dimanfaatkan sebagai arena jogging dan olah raga. Abdul juga membawaku melewati permukiman kaum borgeouis Tangier, dengan rumah – rumah bak istana. Menurut Abdul, berdasarkan bahasa tarzan yang kuterjemahkan sendiri, selain orang – orang kaya Tangier, kawasan ini juga dihuni oleh para diplomat dan orang – orang kaya Eropa dan Jazirah Arab.

Kawasan Perumahan Elit di Tangier
Kawasan Perumahan Elit di Tangier
Jalanan dengan pepohonan rindang di kiri kanan jalan
Jalanan dengan pepohonan rindang di kiri kanan jalan
Di siang hari, kawasan hutan kecil ini dijadikan sebagai tempat berolah raga.
Di siang hari, kawasan hutan kecil ini dijadikan sebagai tempat berolah raga.

Semakin jauh meninggalkan pusat kota. Pemandangan semakin indah, dengan latar belakang laut mediterania. Terkadang, aku masih menemukan beberapa wanita dengan balutan pakaian traditional Berber. Abdul membawaku ke Cape Spartel, yang merupakan jalan masuk ke Maroko melalui Selat Gibraltar. Selain bagian paling ujung barat laut Benua Afrika, di tempat ini pula Laut Mediterania dan samudera Atlantik bersatu. Ada sebuah mercu suar, sebagai landmark dari tempat tersbut.

Wanita Berber yang kulihat di sepanjang jalan, Tangier, Morocco
Wanita Berber yang kulihat di sepanjang jalan, Tangier, Morocco
Wanita Berber yang kulihat di sepanjang jalan, Tangier, Morocco
Wanita Berber yang kulihat di sepanjang jalan, Tangier, Morocco

 

Pantai, di sepanjang laut Mediterania, Tangier, Morocco
Pantai, di sepanjang laut Mediterania, Tangier, Morocco
Cape Spartel, Tangier, Morocco
Cape Spartel, Tangier, Morocco

Cukup 15 menit untuk mengabadikan moment. Kami melanjutkan perjalanan menuju gua Hercules. Tak ada yang terlalu istimewa dari gua ini. Hanya sebuah mitos yang menceritakan bahwa si perkasa Hercules pernah bermalam di gua ini. Kebenarannya sendiri masih perlu dipertanyakan. Di gua ini ada lubang, pintu masuk air laut, yang bentuknya menyerupai bentuk benua Afrika. Tapi, sekali lagi, bentuk pintu ini juga memiliki campur tangan manusia. Tidak terbentuk secara alami. Satu – satunya yang sejarahnya benar, di gua ini, Def Leppard pernah mengadakan konser.

Hercules Cave, Tangier, Morocco
Hercules Cave, Tangier, Morocco
Hercules Cave,Tangier, Morocco
Hercules Cave,Tangier, Morocco

Pukul 3 sore hari, Abdul mengantarku kembali ke Tangier. Aku memintanya menurunkanku di Pasteur Avenue. Tempat ini merupakan pertemuan antara kota lama dan kota baru. Aku lebih tertarik untuk melihat – lihat kota baru nya. Untuk kota lama dan Medina, tak ada yang mengalahkan Fes. Aku menghabiskan waktu selama dua jam, menyeruput kopi dan dua potong croissant, menghabiskan waktu sebelum berangkat dengan kereta malam menuju Marrakech.

Avenue Pasteur, Tangier, Morocco
Avenue Pasteur, Tangier, Morocco

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s