Di Atas Kereta Api Malam, Dari Tangier Menuju Marrakech (Maroko, Part 8)


night trainTidak banyak yang bisa kuceritakan mengenai perjalanan ini. Selain, aku melakukan perjalanan di malam hari, tak ada yang bisa terlalu dinikmati. Gelap, dan aku tak bisa melihat apapun di dalam gelap. Fakta lain, aku menghabiskan sebagian besar waktuku untuk tidur selama 12 jam perjalanan.

Menuju Marrakech, ada satu gerbong khusus untuk kelas Couchette. Dalam gerbong ini, tersedia beberapa kompartemen, dimana dalam satu kompartemen terdapat dua buah tempat tidur bertingkat. Jadi, satu kompartemen bisa diisi oleh empat orang. Tempat tidurku berada di bawah (aku tak suka ketinggian. Membuatku gugup). Setiap tempat tidur, disediakan bantal, seprai dan selimut. Setiap orang harus mempersiapkan seprai nya masing – masing.  Di atas tempat tidur, ada rak untuk meletakkan koper dan barang bawaan.

Aku tidak sendirian di dalam kompartemen, melainkan bergabung dengan dua orang wanita lain. Kompartemenku memang khusus untuk wanita. Mereka adalah Helena, seorang wanita berusia pertengahan empat puluhan, yang berasal dari Spanyol, dan Leila, juga wanita berusia pertengahan empat puluhan, yang kebetulan berasal dari Maroko. Mereka berdua menganggapku gila. Helena menganggapku gila karena aku tinggal di Congo. Sementara Leila tak bisa mengerti kenapa aku mau jalan – jalan sendirian. Mereka sepakat, kalau aku bertindak di luar batas kewajaran fikiran mereka. Mereka bilang ketika mereka di usiaku, mereka tak kan pernah berfikir untuk berjalan – jalan seorang diri di tengah sebuah negeri asing. Tidak ada toilet khusus untuk setiap kompartemen. Namun, di ujung gerbong ada sebuah toilet yang dikhususkan untuk penumpang gerbong Couchette. Toiletnya cukup besar, dilengkapi dengan wastafel. Dan cukup bersih. Jadi, aku cukup leluasa untuk melakukan berbagai hal. Mula dari sikat gigi, mencuci muka, mengambil air wudhu hingga berganti pakaian.

Night Train Compartment, from Tangier to Marrakesh. Morocco
Night Train Compartment, from Tangier to Marrakech. Morocco

Tak banyak yang dilakukan selama perjalanan. Leila dan Helena bercakap – cakap dalam bahasa Spanyol. Aku mendengarkan musik sambil membaca buku. Tak lama, Leila mengikuti jejakku, mengambil bukunya untuk dibaca. Kami mematikan lampu karena tak mau Helena terganggu. Leila menggunakan lampu baca kecil, dan aku karena menggunakan tablet, tak memerlukan lampu baca.

Aku hanya membaca kurang dari setengah jam. Selebihnya, aku tak terlalu mengingat apa yang terjadi. Yang kutahu, aku tertidur, menikmati ayunan lembut kereta malam yang tengah berjalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s