Marrakech Yang Hectic (Maroko , Part 9)


Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco
Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco

Aku memilih Marrakech sebagai persinggahan terakhir. Mengutip dari sebuah ungkapan, “save the best for last”. Berdasarkan informasi yang kudapatkan dari banyak orang, dan hasil membaca berbagai travel blog, Marrakech adalah satu kota ‘you shouldn’t miss when you’re in Morocco’.

Tidak salah, memang. Kota itu atraktif, berbudaya, dan unik. Intinya, kota itu menarik. Bahkan terlalu menarik, sehingga mengundang begitu banyak wisatawan yang datang dari berbagai pelosok negeri. Bisa dikatakan, hampir semua turis yang datangke Maroko (aku tak tahu persentasenya), singgah dan tumpah ruah di Marrakech. Bahkan, banyak yang melewati  Casablanca begitu saja, yang terkenal sebagai kota pelabuhan terbesar di Maroko, hanya sebagai tempat  transit saja. Mendarat di Bandara, dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Marrakech dengan menggunakan bis atau kereta api.

“Marrakech memang cantik. Tapi, jangan terkecoh. It’s not the best place in Morocco,” kata Leila, teman seperjalanan di kereta malam. Dia dan Helena akhirnya lelah juga membahas tentang generasi muda (merujuk ke aku), yang suka bertindak spontan dan nekat.

“Saking cantiknya, membuat kota itu jadi tak menarik lagi. Begitu banyak turis. Dan  begitu banyak wisatawan, membuat kota itu kehilangan identitas aslinya. Begitu banyak orang yang berlomba – lomba untuk mendapatkan keuntungan yang sebanyak – banyaknya dari para turis. Harga – harga jadi tak masuk akal.Tak jarang, di beberapa tempat, para pedagang terkesan memaksa turis untuk membeli sesuatu dari toko mereka. Kau harus hati – hati. Kalau memang tak berniat membeli, lebih baik urungkan niat untuk melihat – lihat toko. Camkan ini” jelasnya panjang lebar.

Tiba di stasiun kereta api Marrakech. Helena mengucapkan selamat tinggal. Leila berbaik hati mengantarkanku dengan taxi ke alun – alun “Djema El Fna” yang terkenal. Dia masih meragukan kamampuanku untuk mencapai alun – alun tersebut tanpa tersasar.Aku sangatmenghargai kebaikannya. Taxi menurunkanku di tengah alun – alun, tepatnya di Café de France. Tempat ini cukup popular dan akan memudahkan sang pemilik riad untuk menemukanku di sana.

Setelah menelepon dan menunggu selama limabelas menit, seorang pemuda bernama Abdul, datang menjemputku.  Jarak riad tidak jauh, hanya 7 menit saja, ditempuh dengan berjalan kaki dengan kecepatan normal.

Riad Maud, terletak di dalam Medina, Marrakech. Dari Djema El Fna, kami masuk ke sebuah jalan kecil, di mana banyak toko – toko berjajar di kiri dan kanan, belok kiri, belok kanan, belok kiri lagi, dan tibalah di Riad Maud. Cukup membuatku bingung. Riad itu tidak besar. Kamarnya, kurang dari 10, kukira. Lebih seperti guest house, mirip dengan Riad Nassim yang ada di Fes. Hanya, Riad Maud ini lebih besar dan lebih teratur .Persamaan lain dari riad – riad ini, selalu ada mezanin dan void di dalam bangunan. Beberapa riad, void ini dibiarkan begitu saja, tanpa atap, sehingga bisa menjadi salah satu jalan sirkulasi udara. Tapi, di Riad Nassim, mereka menutupnya dengan atap dari bahan kaca. Void ini menjadi sumber cahaya di siang hari.

Usai istirahat sejenak,  aku meningalkan Riad dengan berbekal peta Medina  yang diberikan Abdul. Djema El Fna mulai ramai, berbeda dengan suasana di pagi hari yang hanya berupa alun – alun kosong.

Siang hari di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Siang hari di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Siang hari di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Menjelang sore di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Karena hari masih siang, aku pergi ke Mesjid Koutoubia yang tak jauh dari Djema El Fna. Aku bisa memotret, sambil menunggu waktu Ashar. Mesjid ini merupakan masjid terbesar di Marrakech. Dihiasi dengan ornament jendela – jendela melengkung, keramik dan ukiran. Menaranya setinggi 77 meter dan dindingnya terbuat dari batu merah. Di sekeliling masjid terdapat taman yang luas dengan bangku – bangku tamannya. Beberapa pedagang menggelar barang dagangan mereka. Cukup nyaman untuk melepas penat di panasnya Marrakech. Tidak seperti Fes, Meknes maupun Tangier, suhu di Marrakech sama sekali tidakdingin. Padahal, sudah mulai masuk musim gugur.Aku tak berani membayangkan suhunya di musim panas.

Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco
Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco
Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco
Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco
Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco
Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco

Usai shalat Ashar, aku kembali ke Djema El Fna. Sekarang, suasana sudah ramai betul. Benar, kata Leila. Djema El Fna, bisa menjadi sangat hectic. Mungkin, ribuan orang tumpah ruah ke sana menjelang malam. Tak hanya turis mancanegara, turis local pun banyak. Aku harus hati – hati saat berjalan. Jika tidak mau tertabrak sesama pejalan kaki, sepeda, sepeda motor, taxi, hingga kereta kuda.

Menjelang sore di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Menjelang sore di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Kereta Kuda di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Kereta Kuda di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Keledai yang berkeliaran bebas di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Keledai yang berkeliaran bebas di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Café – café di sekitar Djema El Fna memanfaatkan lokasi strategis café mereka. Café – café yang memiliki balkon, mengizinkan para turis naik ke atas balkon untuk melihat Djema El Fna secara menyeluruh.  Syaratnya,  setiap tamu harus membeli minuman di café tersebut. Tempat – tempat seperti ini, tempat favorit para photographer dan pembuat film dokumenter.

Saat sore menjelang malam, suasana benar – benar ramai. Beberapa penari dengan pakaian tradisional Maroko mengambil tempat. Mereka mulai memainkan alat musik berupa gendang dan mulai menari. Para pemikat ular pun mulai heboh dengan seruling dan ular – ular mereka. Dibayar pun, aku tak mau berfoto dengan ular – ular itu. Beberapa monyet bertengger di pundak pemiliknya. Sang pemilik menunggu turis yang berniat berfoto dengan monyet mereka. Penjaja tattoo henna juga mulai mengambil tempat. Berharap bisa melukis anggota tubuh turis – turis yang berminat anggota tubuhnya dilukis – lukis. Penjual air dengan pakaian tradisional Berber juga mulai tampak. Penjual air ini, sebenarnya tak menjual air. Mereka hanya model, jika ada wisatawan yang mau mengambil foto mereka dengan membayar beberapa Dirham. Pokoknya, benar – benar ramai. Dentuman musik dan gendang bertalu – talu melantunkan irama musik.

Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Penjual Henna, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Penjual Henna, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Penjual air, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Penjual air, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Penjual Air, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Penjual Air, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Suasana malam harti di Djema El Fna, Marrakech, Morocco. Kafe - kafe tenda mulai berdatangan
Suasana malam harti di Djema El Fna, Marrakech, Morocco. Kafe – kafe tenda mulai berdatangan
Makanan yang ditawarkan di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Makanan yang ditawarkan di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Penjual makanan dan dagangannya, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.
Penjual makanan dan dagangannya, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Di sudut lain, penjaja makanan mulai membuka warung makan. Setiap warung, dilengkapi tenda, tempat memasak, tempat meletakkan makanan yang sudah dimasak, dan sebuah nomor. Masing – masing warung mengerahkan kemampuan untuk menarik pelanggan. Macam – macam makanan yang dijual. Tajine dan couscous jelas ada.Selain itu, ada juga brochette daging, ayam goreng, udang, calamari bahkan escargot. Kuakhiri hari dengan sepiring calamari dan segelas mint tea.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s