Sahara (Maroko, Part 10)


Mengitari dan merasakan sensasi menginap di gurun Sahara adalah salah satu agenda utama dalam kunjungakun ke Maroko ini. Ismail, staff di Riad Maud telah mengatur perjalananku melalui sebuah biro perjalanan yang ada di Marrakech. Aku tidak nekat, berkelana di tengah gurun seorang diri, berpura – pura sebagai Laurence of Arabia. Lagipula, aku tidak pernah mendengar ada traveler yang mengatur perjalanannya sendiri ke Sahara, semuanya menggunakan jasa biro perjalanan. Aku tidak mau mengambil resiko tersasar di gurun dan terdampar di Timbuktu. Untuk perjalanan dua hari ke Sahara, aku membayar sebanyak 50 Euro, sudah termasuk ongkos perjalanan, biaya menginap di tenda, unta, makan malam dan sarapan.

Begitu memasuki van yang akan membawaku ke Sahara, aku langsung tahu bahwa aku adalah satu – satunya solo traveller. Semuanya adalah pasangan. Bahkan dua orang gadis berasal dari Belanda yang juga menginap di Riad Maud mengaku bahwa mereka adalah ‘couple’ ketika Pak supir meminta mereka berpisah tempat duduk. Well, kukira aku akan baik – baik saja. Lagi pula, aku sudah membawa buku dan MP3 player jika rasa bosan mulai menyerang.

Perjalanan sungguh menakjubkan. Pemandangannya, ‘Amaaaaazing’. Pepohonan dan semak – semak hijau semakin menghilang begitu kami meninggalkan Marrakech, digantikan dengan padang pasir luas, seluas – luas mata memandang.

Dalam perjalanan menuju Sahara. Pepohonan dan Semak - semak hijau digantikan dengan padang pasir tandus.
Dalam perjalanan menuju Sahara. Pepohonan dan Semak – semak hijau digantikan dengan padang pasir tandus.

Memasuki kawasan pegunungan Atlas, jalanan mulai berkelok – kelok. Meskipun Pak Supir sudah berusaha menyetir sebaik – baiknya, tetap saja perut terasa dikocok – kocok melewati jalanan yang mirip rel kereta roller coaster itu. Saat kami berhenti untuk mengambil beberapa foto dengan latar pegunungan Atlas, seorang cewek asal Inggris mendapat sakit kepala berat. Pasangan dari Brazil berbaik hati untuk menukar tempat duduk, sehingga si cewek Inggris bisa duduk di samping pak Supir.

Jalan menuju pegunungan Atlas, seperti rel kereta Roller Coaster.
Jalan menuju pegunungan Atlas, seperti rel kereta Roller Coaster.
Pegunungan Atlas
Pegunungan Atlas
Pegunungan Atlas
Pegunungan Atlas
Pegunungan Atlas
Pegunungan Atlas
Pegunungan Atlas
Pegunungan Atlas

Pak Supir memberhentikan mobil saat waktu menunjukkan pukul 1 siang. Saatnya makan siang. Kami makan di restaurant Maroko di sebuah kota bernama Quarzazate.  Sepasang suami istri dari Chili bergabung bersamaku di meja makan. Mereka menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan selama di Sahara.

Usai makan siang, kami langsung melanjutkan perjalanan. Pak Supir tidak mau kami berhenti terlalu lama agar bisa tiba di Zagora sesegera mungkin. Zagora adalah kota terakhir yang bisa dicapai sebelum memasuki kawasan gurun Sahara.

Dalam perjalanan menuju Zagora
Dalam perjalanan menuju Zagora
Dalam perjalanan menuju Zagora
Dalam perjalanan menuju Zagora
Dalam perjalanan menuju Zagora
Dalam perjalanan menuju Zagora
Dalam perjalanan menuju Zagora
Dalam perjalanan menuju Zagora

Dalam satu grup, kami terdiri dari banyak bangsa. Aku, dari Indonesia. Ada pasangan dari Brazil, campuran Pakistan – Brazil, Chili, Belanda, Inggris, Jerman dan Swiss. Selama perjalanan, aku tidak pernah berbicara dengan pasangan dari Swiss ini. Mereka cenderung menyendiri, dan aku tak pernah mendengar mereka berbicara dalam bahasa Inggris.

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore ketika akhirnya kami tiba di Zagora. Pak Supir menminta kami untuk membeli air, karena selama di gurun, mereka tidak menyediakan air minum. Aku membeli 2 botol besar air mineral dan beberapa snack.  Usai berbelanja, Pak Supir membawa kami ke tempat pemberhentian unta. Aku hampir pingsan melihat unta – unta yang begitu besar. Haruskah aku mengendarai unta – unta ini?

Zagora, Morocco
Zagora, Morocco
Zagora, Morocco
Zagora, Morocco
Zagora, Morocco
Zagora, Morocco

Renata, si cewek asal Belanda bertanya, “menurutmu, berapa lama kita harus mengendarai unta – unta itu?” tanyanya.

“Entahlah,” jawabku sangsi. “Mungkin lima belas menit atau satu jam,”

Si Pak Supir mendengar pembicaraan kami. Dia berkata, “satu setengah – 2 jam”. Aku dan Renata hanya bertukar pandang cemas.

Trust me, naik unta itu sama sekali tidak menyenangkan. Di sini, pak Supir akan berbisah dengan kami. Kami akan dipandu oleh pemuda – pemuda Berber menuju lokasi camping. Seorang pemuda Berber membantuku untuk meletakkan perbekalanku di sebuah tongkat yang telah diletakkan sebagai pegangan di atas unta. Dia menendang untanya pelan, dan si unta langsung berlutut. Si pemuda meletakkan tas belanjaan dan ranselku di pundak sang Unta. Dan kemudian menyuruhku naik ke atas unta. Dalam keadaan duduk saja, unta – unta itu masih tinggi. Sekitar 90 cm – 1 meter tingginya. Susah payah, dibantu si pemuda Berber, akhirnya aku berhasil menaiki sang Unta. Setelah memastikan aku duduk dengan nyaman, si pemuda menendang kembali untanya. Si unta berdiri dengan kecepatan super kilat. Isi perutku serasa berteriak – teriak minta dikeluarkan.

Kami berjalan beriringan, seperti layaknya rombongan karavan. Setengah jam pertama sangat terasa menyiksa. Rasanya ingin segera melompat dari punggung Unta. Unta Renata sempat terlepas di tengah perjalanan, dia tertinggal sejauh dua puluh meter ketika kami mendengarnya berteriak – teriak. Langit mulai gelap. Rembulan sabit mulai menampakkan diri dengan malu – malu. Langit gelap pekat, karena tidak ada satu pun lampu dan penerangan buatan. Perlahan, bintang – bintang mulai bermunculan dan sekejab saja, langit menjadi penuh bintang. Menyaksikan keindahan langit, aku sempat lupa kalau aku tengah duduk di punggung unta.

Kami tiba di lokasi camping. Unta – unta mulai duduk. Aku merasa seperti akan terjungkir ketika untaku berlutut. Dibantu si pemuda Berber, aku turun dari unta. Tenda – tenda sudah didirikan, lengkap dengan lampu pijar sebagai penerangan. Aku berbagi tenda dengan Renata dan teman Belandanya. Kamar mandi seadanya juga tersedia, dengan air yang terbatas.

Tenda - tendan di gurun Sahara
Tenda – tendan di gurun Sahara
Setiap tenda terdiri dari 4 tempat tidur, dilengkapi dengan selimut - selimut tebal.
Setiap tenda terdiri dari 4 tempat tidur, dilengkapi dengan selimut – selimut tebal.

Rombongan kami adalah rombongan karavan yang terakhir. Ketika kami tiba, pengelola camp sedang menyiapkan makan malam untuk seluruh rombongan. Kami harus menunggu. Satu rombongan masuk untuk makan malam, karena tenda tempat untuk makan malam tak cukup besar untuk menampung seluruh rombongan.

Selama menunggu, kami tak henti – hentinya disuguhi Maroccan tea. Enak sekali menghirup teh panas ditengah udara gurun yang mulai dingin, sampai akhirnya kami masuk dan dipersilahkan untuk menikmati makan malam. Makanannya, seperti biasa, makanan khas Maroko. Tajin dan cous cous. Usai makan, kami dihibur dengaan lagu – lagu dan tarian tradisional Berber. Aku hanya menonton. Begitu pula anggota rombongan yang lain. Kami terlalu lelah untuk ikut menari.

Moroccan tea yang disajikan terus menerus
Moroccan tea yang disajikan terus menerus
Pemuda Berber yang tengah menghibur turis dengan gendang, lagu dan tarian tradisional Berber
Pemuda Berber yang tengah menghibur turis dengan gendang, lagu dan tarian tradisional Berber
Grup seperjalanan. Sebelum makan malam, menyempatkan berfoto.
Grup seperjalanan. Sebelum makan malam, menyempatkan berfoto.

Aku tak tahu pasti, waktu menunjukkan pukul berapa ketika aku memasuki tenda. Renata sudah masuk dari beberapa waktu yang lalu. Begitu merebahkan badan, aku langsung tertidur pulas.

4 thoughts on “Sahara (Maroko, Part 10)

  1. Eka Darma Putra

    Halo mba,

    Saya akan ke Marrakech, rencana nya mau ke sahara / zagora juga. Masih ingat ngk mba nama biro perjalanan untuk sahara trip ini? atau ada no tlp ny mungkin. trims sebelum nya.

    1. Halo Eka.
      Maaf ya, saya sudah lupa nama biro perjalanan ke Zagora. Tapi, jangan khawatir. Di Marrakech banyak banget biro perjalanan untuk wisata gurun. Di sepanjang jalan, bahkan di restoran – restoran juga ada. Kamu bisa booking hari ini, untuk keberangkatan keesokan hari nya. Harga ke Zagora sekitar 50 Euro. Yang penting jangan sampai ketipu sama harganya.. Tapi, kelihatannya mereka ngga nipu kok. Karena banyaaaaakkkk banget agen perjalanan di sana. Sepertinya satu sama lain saling berhubungan.

      Selamat liburan ya…

      1. Eka Darma Putra

        ooo ic2…soal ny aq email htl ny. mereka buka hrg 75 Euro…gubrak…
        btw, ke zagora brgkt jm brp ya mba dari htl? soal ny mgkn aq direct dr casablanca. cuma punya wkt sedikit 24-27 buat casablanca-sahara-marrakech…😦

      2. itu 70 Euro udah ke Mergouza. Yang 3 hari, 2 malam. 1 malam nginap di hotel, i malam di tendah di Sahara. kalau Zagora, 50 Euro aja. Biasanya berangkat pagi, sekitar jam 8 pagi dari hotel. Marrakesh – Zagora seharian perjalanannya. Nyampe Zagora waktu itu dah jam 5 sore… Kmren aku ke Riad Maud. Mereka yang nyariin travel agent nya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s