Ksar Ait Ben Haddou, Hollywood nya Maroko (Maroko, Part 11)


 

 Udara di gurun bisa benar – benar dingin di malam hari. Aku terbangun beberapa kali hanya untuk merapatkan jaket musim dingin yang memang sengaja aku bawa. Pukul 6 pagi aku bangun untuk shalat Subuh. Pengelola camp sudah bangun sejak beberapa waktu yang lalu. Mereka sudah mempersiapkan sarapan pagi berupa teh, roti, keju, sellai, mentega dan telur.

Pemandangan pagi hari di gurun sangat indah. Kami tiba ketika hari sudah gelap, dan aku tidak menyadari kalau kami benar – benar berada di tengah – tengah gurun. Seperti berada di tengah – tengah lautan pasir. Gundukan pasir ada di mana – mana. Mentari pagi mulai menunjukkan diri dengan malu – malu. Aku tak bisa mengambil foto sunrise penuh. Saat itu, langit tengah berawan.

Pemandangan pagi hari di gurun sangat indah. Kami tiba ketika hari sudah gelap, dan aku tidak menyadari kalau kami benar – benar berada di tengah – tengah gurun. Seperti berada di tengah – tengah lautan pasir. Gundukan pasir ada di mana – mana. Mentari pagi mulai menunjukkan diri dengan malu – malu. Aku tak bisa mengambil foto sunrise penuh. Saat itu, langit tengah berawan.

Sahara Desert di pagi hari
Sahara Desert di pagi hari
Sahara Desert, di pagi hari
Sahara Desert, di pagi hari
Sahara Desert, di pagi hari
Sahara Desert, di pagi hari
Sahara Desert, di pagi hari
Sahara Desert, di pagi hari
Sahara Desert, di pagi hari
Sahara Desert, di pagi hari
Sahara Desert, di pagi hari
Sahara Desert, di pagi hari

Usai sarapan, kami dipersilahkan untuk memilih unta – unta yang akan membawa kami ke tempat mobil – mobil diparkir. Aku menolak ketika si pemuda Berber memilihkan satu unta untukku. Aku memilih unta yang lebih kecil. Kali ini, naik unta tidak semengerikan sebelumnya. Perutku masih melonjak ketika sang unta berdiri dari duduknya. Tapi, tidak separah sebelumnya.

Unta - unta ini sedang menunggu para anggota karavan
Unta – unta ini sedang menunggu para anggota karavan
Aku dan si Unta
Aku dan si Unta
Camels shadow on the desert
Camels shadow on the desert

Jika hari sebelumnya kami harus mengendarai unta selama hampir dua jam, untuk kembali ke parkiran mobil, hanya dibutuhkan setengah jam perjanan saja. Beberapa orang, memillih untuk jalan kaki. Pak Khalid Sikandar, teman seperjalananku, kebangsaan Brazil keturunan Pakistan, Beliau memilih untuk jalan kaki saja. Beliau berhasil mengabadikan foto rombongan karavan. Beliau juga mengirimkan beberapa fotonya untukku. Terima kasih pak Khalid.

Iringan Karavan.
Iringan Karavan.
Iringan karavan
Iringan karavan
Credit given to Mr. Zarrar Khalid Sikandar for shooting this beautiful picture.
Credit given to Mr. Zarrar Khalid Sikandar for shooting this beautiful picture.

Pak Supir menyambut kami dengan riang gembira. Dia kelihatan begitu fresh. Berbeda dengan kami, yang kelihatan letih. Aku pun merasa mengantuk sekali. Aku tidak tidur dengan nyenyak karena udara dingin, meskipun ada beberapa selimut tebal yang sudah disediakan untuk setiap tenda. Tapi, tetap saja tak bisa menghalau udara gurun yang dingin.

Di Zagora, pak Supir berhenti di sebuah cafe kecil. Disini, kami memesan teh, dan membersihkan diri. Paling tidak, mencuci muka dan menyikat gigi. Kemudian, melanjutkan perjalanan.

Seperti hari sebelumnya, kami makan siang di kota Quarzazate. Oh ya, di kota ini ada sebuah bangunan terkenal yang disebut dengan Ksar Ait Ben Haddou. Dulunya ini adalah sebuah desa yang dilindungi dengan benteng – benteng tinggi terbuat dari tanah. Ksar Ait Ben Haddou adalah contoh arsitektur tradisional Maroko di bagian Selatan. Ksar artinya kumpulan dari rumah tinggal. Rumah – rumah ini berdekatan dan berkelompok. Saat ini, ada 9 keluarga yang masih tinggal di bangunan ini. Untuk info lengkap mengenai sejarah Ksar Ait Ben Haddou bisa dibaca di sini.

Ksar Ait Ben Haddou
Ksar Ait Ben Haddou, tempat shooting film, seperti Prince of Persia, Gladiator, the Mummy, Alexander, etc.
Ksar Ait Ben Haddou
Ksar Ait Ben Haddou
Ksar Ait Ben Haddou. Masih ada 9 keluarga yang tinggal di sini.
Ksar Ait Ben Haddou. Masih ada 9 keluarga yang tinggal di sini.
Ksar Ben Ait Haddou
Ksar Ben Ait Haddou

Selain salah satu site warisan UNESCO, tempat ini juga dikenal sebagai Hollywoodnya Amerika. Beberapa film telah dimainkan disini. Seperti Prince of Persia, Sodom and Gomorrah, Alexander, Gladiator, Babel, the Mummy dan lain – lain. Kami ditemani seorang tour guide untuk melihat – lihat ksar. Tidak semua orang ikut berjalan – jalan melihat Ksar. Hanya aku, pasangan dari Chili, Brazil dan Jerman saja yang mau pergi. Sisanya, mereka memilih untuk duduk dan menunggu di restaurant daripada berpanas – panasan.

Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou
Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou
Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou
Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou
Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou
Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou
Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou
Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou

Perjalanan kembali ke Marrakech seperti tak pernah berakhir. Aku lelah sekali, karena seharian duduk di dalam mobil. Ngantuk, capek, dan pegal. Tapi, jika dibandingkan dengan pemandangan dan pengalaman selama di gurun, rasanya semuanya setimpal. Kami tiba di Marrakech pukul 7.30 malam. Usai mengucapkan selamat malam dengan Renata, aku masuk kamar, mandi dan langsung tertidur nyenyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s