Marrakech, Hari Terakhir (Maroko, Part 12, TAMAT)


Perjalanan ke Zagora memang bikin badan hampir ambruk. Setelah tidur hampir 10 jam lamanya, aku bangun tidur dengan rasa sakit dan pegal di sekujur badan. Untuk sarapan saja malas, jika saja si Nur, salah satu staff riad tidak heboh menggedor kamarku, mengingatkanku untuk sarapan.

Aku bangun dan berjalan menuju balkon atas dengan terpincang – pincang. Renata ada di sana, merokok, dan mengucapkan selamat pagi ketika melihatku. Kami bercakap – cakap sebentar sambil menunggu sarapanku tiba.  Renata juga bersiap – siap akan check out. Hari itu dia akan kembali ke Belanda.

Rasanya, ingin menghabiskan waktu seharian di tempat tidur saja. Namun, hari itu adalah hari terakhirku di Marrakech. Besok, aku sudah akan kembali ke Casablanca untuk mengejar penerbangan kembali ke Congo. Dan aku tidak pernah tahu kapan akan bisa kembali ke Marrakech. Pukul 10 pagi, aku keluar dari hotel.

Aku tidak punya agenda khusus hari itu. Jadi, kemana aku pergi, hanya tergantung kemana kaki ini akan membawa. Tanpa itinerary. Aku keluar dari riad, berjalan menyusuri souk yang ada di sepanjang jalan. Aku hanya tersenyum ketika para pedagang mencoba menawarkan dagangan. Sama seperti ketika di Turki, Maroko punya banyak hal menarik yang bisa dilihat. Belanja akan menjadi prioritas paling akhir dalam agenda perjalananku. Bahkan, mungkin tidak ada sama sekali.

Di ujung jalan Medina, aku melihat sekumpulan turis tengah berkumpul. Tak jauh dari sana, ada sebuah pos jaga, yang ternyata tempat penjualan tiket untuk masuk ke Istana  El Badi. Secara aku menyukai museum dan hal – hal yang berbau sejarah. Jadi, kulangkahkan saja kakiku masuk ke istana tersebut. Tiketnya juga tidak mahal, 10 Dirham per orang.

Istana El Badi bukanlah bangunan yang utuh. Hanya puing – puing reruntuhan, sisa – sisa kejayaannya di masa lampau. Puing – puing itu malah menjadi tempat tongkrongan burung – burung. Di tengah kompleks istana, ada sebuah kolam besar. Di lantai atas istana, ada balkon. Dimana bisa melihat Old Medina Marrakech. Tempat ini cukup tenang, tidak terlalu banyak turis lalu lalang. Bisa jadi, karena lokasinya juga luas. Jadi, kesannya tidak terlalu sumpek.

Satu jam kemudian aku meinggalkan Istana El Badi. Aku melewati pasar rempah  atau spice market yang menawarkan berbagai jenis bahan rembah. Begitu memasuki kawasan ini, wangi rempah langsung menyerbak hidung. Tak jauh dari sana, ada satu istana lagi. Namanya istana Bahia. Kawasan istana ini luas, lengkap dengan tamannya. Namun, aku merasa sumpek ketika berada disana. Mungkin, dikarenakan istana ini lebih dikenal dari pada tetangganiya El Badi. Atau memang bangunan istana tidak terlalu luas dibanding dengan jumlah turis yang datang. Meskipun bangunan masih utuh, namun istana ini juga kosong. Tidak ada furniture dan benda – benda istana di dalamnya. Begitupun, aku masih sempat mengabadikan beberapa foto.

Lupa ini namanya apa. Letaknya tak jauh dari spice market
Lupa ini namanya apa. Letaknya tak jauh dari spice market
Spice Market, Marrakech
Spice Market, Marrakech

Saat makan siang, aku ingat kalau di Marrakech ada Majorelle Garden. Menurut review yang pernah aku baca, tempat ini salah satu tempat ‘you must visit when you’re in Marrakech”. Usai makan siang, aku menyetop petite taxi menuju ke sana. Letaknya tidak terlalu jauh dari alun – alun Djema El Fna. Namun, tetap saja, tidak bisa jalan kaki karena jaraknya tidak dalam ‘walking distance’.

Jardin Majorelle atau Taman Majorelle ini dirancang oleh seorang artis berasal dari Prancis, bernama Jacques Majorelle. Tahun 1980, taman ini menjadi milik perancang Prancis yang terkenal, Yves Saint Laurent. Ketika Beliau meninggal tahun 2008, abunya di tanam di sini.

Jardin Majorelle, Marrakech, Morocco
Jardin Majorelle, Marrakech, Morocco
Makam abu Yves Saint Laurent di Jardin Majorelle, Marrakech, Morocco
Makam abu Yves Saint Laurent di Jardin Majorelle, Marrakech, Morocco

Biaya masuk ke taman ini cukup mahal, tidak seperti museum – museum lain di Maroko. Aku lupa berapa aku harus membayar, kalau tidak salah sekitar 20 USD. Taman ini tidak seluas yang kubayangkan. Memang, begitu masuk, suasana adem langsung terasa dengan tanaman – tanaman  hijau yang ada di dalamnya. Aku tidak terlalu mengenail jenis – jenis tanamannya. Atau mungkin tidak terlalu serius memperhatikan tanaman – tanamannya. Yang kukenal, hanyalah tanaman – tanaman kaktus saja.

Taman didominasi oleh warna biru dan merah. Sebuah bangunan di tengah – tengah taman juga di cat dengan warna  biru gelap terang. Di dalam bangunan itu, ada museum Berber. Untuk masuk ke dalamnya, harus membayar lagi. Kamera, tidak diperbolehkan di museum ini. Memasuki museum, aku disambut dengan petugas yang berbicara dengan sangat pelan sekali. Aku hampir tidak dengar ketika dia memintaku agar ranselku tidak disandang di punggung belakang. Sayup – sayup terdengar alunan musik tradisional Berber. Suasana memang syahdu sekali.

Di depan pintu masuk ada sebuah televisi yang menunjukkan pertunjukan sejarah suku Berber. Setelah itu, ada ruangan yang memamerkan pakaian dan peralatan hidup tradisional suku Berber. Musik – musik itu masih mengalun dengan lembut.

Ada satu ruangan khusus yang memamerkan perhiasan suku Beber. Ruangan ini indah sekali. Dindingnya di lapisi kaca. Dilengkapi dengan lampu yang berkilau kecil – kecil, mirip bintang – bintang yang bertebaran di langit. Indah sekali. Sayang, aku tidak bisa mengabadikan keindahannya dengan kameraku.

Dua minggu sudah aku berkelana di negeri paling utara di benua Afrika. Laut, gunung dan gurun kulewati. Kusaksikan begitu banyak hal dan keindahan. Aku banyak merenungkan arti perjalananku. Intinya, aku bahagia. Dan bersyukur. Aku diberi kesempatan oleh Allah untuk menyaksikan semuanya. Aku tak tahu, kapan aku bisa kembali ke negeri ini. Namun, aku tahu pasti. Aku akan merindukannya. Kota – kota nya, lautnya, pegunungan Atlas, Gurun Sahara, bahkan azan mesjid yang terdengar unik.  Terima kasih Allah, untuk satu negara yang telah kau izinkan untuk kusaksikan.

7 thoughts on “Marrakech, Hari Terakhir (Maroko, Part 12, TAMAT)

  1. Although we can’t read what you wrote here – we had to like this post because the pictures are simply sensational!!! We have never been to Morocco but it is on our to-do list as is every other country seems to be regardless of whether we have visited or not😉

  2. Meera

    Hi, Mbak Nurul.. menarik sekali artikel tentang Morocco nya. Sebagai female solo traveller, ada major obstacle gk Mbak? Aku planning untuk solo traveling ke Morocco akhir tahun ini.. dan kebetulan aku juga pakai jilbab. Kira-kira, ada special advice kah untuk soloist macam aku ini?? hehehe
    Thankss!

    1. Hi Meera. Terima kasih sudah mampir ke blog saya ya. Sebenarnya ngga ada advice khusus. Selama kita mengikuti adat setempat dan selalu berdoa, insya Allah aman2 aja kok. And keep positive always yah. Happy travelling🙂

  3. Itut Wahidin

    Hai Nurul. Salam kenal dari Jakarta. Tulisanmu bermanfaat sekali. Foto-fotonya keren! Maroko sudah lama masuk list. Akhirnya jadi merancang trip ke sana. Tahun ini maunya diwujudkan, sesudah penundaan di Mei lalu. Ini blog ke-2 yang kubaca, sesudah yang ke-1 porsi cerita kurang menyenangkannya lebih banyak.😀 It’s okay. Harus mendengarkan banyak cerita.🙂 Niatnya pergi bertiga (cewek semua). Yang 1 mundur. Yang 1 lagi sedang pikir2. “Terancam” bakal solo travelling, jiper juga. Tapi membaca blogmu adalah salah 1 aspek yang membuat tenang. Hehe2…Salut dengan nyalimu. Meskipun pernah solo traveling, Maroko salah 1 tempat yang bikin pikir panjang untuk solo. Rada setipe denganmu, kalau ke tempat yang banyak cerita scam, selalu milih ambil tur lokal atau pake guide yang diyakini aman. Jadi, sekali lagi terima kasih. Blogmu ini menambah poin di sisi “Pros” dalam “Pros & Cons List.”🙂 Sukses dan sehat selalu. Always take care!

    1. Hi Itut. Terima kasih sudah mampir ke blog saya ya. Pokoknya, dimanapun berada selalu hormati budaya setempat, selalu berdoa dan tetap positive. Insya Allah, selamat. Saya selama 2 minggu di Maroko, Alhamdulillah hanya kena scam di Tangier, dan itu juga ngga terlalu parah. Hindari aja anak2 remaja yang suka sok akrab gitu. Selebihnya, Alhamdulillah aman. Good luck dan happy travelling yah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s