Belanda dan Persiapan Visa Schengen


Lukisan 'The Wondmill' karya pelukis Jacob Isaacksz van Ruisdael. Diambil dari koleksi lukisan di Rijksmuseum
Lukisan ‘The Windmill’ karya pelukis Jacob Isaacksz van Ruisdael. Diambil dari koleksi lukisan di Rijksmuseum

Belanda adalah negara Eropa yang paling ingin saya kunjungi. Meskipun negeri ini pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun, tetap saja saya tidak dapat menghilangkan hasrat untuk melihat si negeri kincir angin. Mungkin, karena ketika saya kecil, saya selalu membaca cerita-cerita dongeng dari Belanda yang ada di majalah Bobo sehingga menginspirasi saya untuk melihat langsung negeri itu.

Proses menuju Belanda tidak terlalu sulit. Saya mendapatkan visa Schengen dari Konsulat Belanda yang ada di Medan. Waktu yang dibutuhkan hanya 7 hari kerja. Jika berdomisili di Jakarta, Anda bisa langsung datang ke kedutaan Belanda setelah membuat ‘ online appointment ’, dan Visa bisa didapatkan di hari yang sama.

Saya banyak mendengar, sulit untuk mendapatkan Visa Schengen. Namun, jika kita mengikuti semua prosedur, prosesnya sama sekali tidak ribet. Pastikan ketika datang untuk membuat visa, Anda sudah melengkapi dokumen – dokumen yang di butuhkan. Dokumen yang saya sertakan adalah sebagai berikut:

  1. Passport dengan masa expired tidak kurang dari 6 bulan.
  2. Pas photo 80% wajah.
  3. Asuransi perjalanan. Untuk asuransi ini, saya menggunakan Axa Schengen . Asuransi perjalanan ini hukumnya, wajib.
  4. Bukti finansial. Bisa menyertakan rekening koran atau slip gaji tiga bulan terakhir. Saya menyertakan dua-duanya ditambah fotokopi kontrak kerja saya.
  5. Reservasi tiket pesawat. Tiket tidak perlu di issued. Hanya butuh reservasi nya saja.
  6. Bukti reservasi hotel selama di Eropa.
  7. Formulir visa Schengen yang sudah diisi dnegan lengkap. Formulirnya bisa diunduh di sini .
  8. Uang sebanyak 60 Euro, dibayar dalam Rupiah.
  9. Itinerary selama di Eropa (tidak wajib, tapi turut saya lampirkan).

Insya Allah, jika semua dokumen ini dipenuhi, maka visa pun akan disetujui.

Dengan menggunakan maskapai Turkish Airlines, saya tiba di Amsterdam di pertengahan April. Sudah masuk musim semi, namun cuaca masih dingin. Angin juga bertiup kencang. Tak heran, Amsterdam terletak di pinggir laut. Syukur saya membawa jacket tebal untuk mengantisipasi dingin. Saya tidak mengalami hambatan apapun selama di imigarasi bandara Schiphol. Petugas imigrasinya pun ramah – ramah. Salah satunya malah menyapa saya dengan bahasa Indonesia. Namun, petugas yang mengecap passport saya, menunjukkan kekhawatiran begitu tahu kalau saya akan berkeliaran di Amsterdam seorang diri saja.

Take care of yourself. Enjoy Amsterdam and be carefull since you’re alone” dia mengecap passport saya.

Selama di Amsterdam, saya menginap di hostel. Ini kedua kalinya saya menginap di hostel. Sebelumnya saya menginap di hostel ketika saya tengah di Sigapura. Dua-duanya dengan alasan yang sama. Berhemat. Saya suka privasi. Ketika rezeki berlebih, saya lebih suka menginap di sebuah kamar mungil sederhana ketimbang beramai – ramai dengan orang asing. Namun, Amsterdam mahal sekali. Sulit menemukan single room dengan harga ekonomis. Minimal, satu single room memakan biaya 80 Euro per malam. Sementara, saya akan tinggal di Eropa selama 18 hari. Mau apalagi, hostel menjadi satu – satunya pilihan jika mau berhemat.

Hostel yang menjadi tempat saya bermukim selama 4 malam ke depan bernama Hostelle. Letaknya tak jauh dari stadion Amsterdam Arena. Dari bandara Schiphol, saya naik train jurusan Eindhoven dan turun di stasiun Blijmer Arena. Membeli tiket kereta, bisa melalui mesin yang banyak terdapat di setiap stasiun. Begitu kereta meluncur ke luar dari stasiun, saya disuguhkan pemandangan khas Belanda. Dengan rumah – rumah kolonial, orang – orang yang bersepeda, serumpun kecil bunga tulip yang mulai merekah. Namun, saya belum melihat kincir angin.

Perjalanan menuju Amsterdam
Perjalanan menuju Amsterdam

Tidak sulit menemukan Hostelle dari stasiun Bijmer Arena. Saya hanya berjalan selama 5 menit dengan mengikuti panduan dari peta yang saya download dari website Hostelle. Seperti namanya, Hostelle ini hostel yang diperuntukkan khusus bagi perempuan saja. Hal ini pula yang membuat saya menjatuhkan pilihan untuk tinggal di hostel ini. Saya bisa bebas berkeliaran tanpa harus mengenakan hijab.

Saya menginap di kamar dorm bersama 5 orang lainnya. Pihak hostel memberikan saya tempat tidur di bawah, seperti permintaan saya. Saya tidak suka ketinggian. Kasurnya cukup empuk, dilengkapi dengan selimut tebal hangat. Di tiap ruangan juga ada pemanas. Shower room dan toilet berada di luar kamar. Satu ruangan shower room diperuntukkan bagi beberapa kamar dorm. Namun, saya tidak pernah mengantri selama di sana. Shower room dan toilet dilengkapi dengan air panas dan selalu dalam kondisi bersih.

Di hostel ini juga disediakan dapur bersama sehingga bisa mengakomodir traaveler yang mau masak sendiri makanannya. Saya tidak pernah menggunakan dapur ini secara khusus. Paling, hanya untuk memanaskan air untuk minum teh atau memanaskan makanan yang saya beli dengan microwave. Hostel ini sangat saya rekomendasikan buat traveler solo perempuan. Info lengkapnya bisa di check di website Hostelle.

8 thoughts on “Belanda dan Persiapan Visa Schengen

    1. Di Belanda serasa di Indonesia aja Mbak Nina. Orang Indonesia ada di mana-mana. Bahkan, saya gampang sekali menemukan restoran Indonesia. Trims sudah mampir, Mbak Nina..

    1. Hi Yulia.. Kamu bisa ke Konsulat Belanda di Medan, dengan membawa dokumen-dokumen yang saya tuliskan di atas. Jika semua dokumen terpenuhi, Insha Allah visa akan disetujui. Happy Traveling ya🙂

      1. yulia

        Dokumen2 apa aja yg hrs sya persiapkan dan dibwa ketika datang ke konsulat mbak, scra saya domisili di batam. Rencanya bln maret ’16 kesananya. Trimksh..🙂

  1. Hi Yulia.. Semuanya tercantum di blog saya, di tulisan di atas. Jika syarat no1-9 dipenuhi, Insya Allah visa akan segera di dapat. By the way, kalau saya boleh usul, mengapa Yulia tidak ke Jakarta saja? Melalui kedubes Belanda, visa akan selesai dalam satu hari. Sementara jika mengurus melalui Konsulat Belanda di Medan, visa akan selesai dalam 7 hari kerja, karena passport kita akan dikirim ke Kuala Lumpur. Kedubes Belanda di KL lah yang akan mengeluarkan visa. Pertimbangan saya, kemarin memilih konsulat Belanda di Medan, karena saya berdomisili di Medan.

    1. yulia

      Tdnya jg bgt mbak ingin lgsg ke kedubes aja tp dr baca2 katanya kl yg dijakarta pake wawancara dan ada yg bilang itu sesi yg ‘serem’ smntra yg dimedan ga jd cr aman aja ( takut salah jwb) hehe..
      oh jd formulir pengajuan visa diisi dr rumah ya mbak? Td sy coba klik di tulisan mbak diatas kok ga ada ya mbak. Trmksh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s