Canal Cruise di Amsterdam


Hari itu sebenarna saya berencana untuk mengunjungi taman bunga tulip terbesar, Keukenhof. Namun, saya terlambat bangun, dan baru tiba di bandara Schiphol, tempat di mana shuttle bus ke Keukenhof mangkal, setelah waktu menunjukkan pukul 11 siang. Begitu tiba, antrian untuk naik bus sudah sangat panjang sekali. Belum lagi antrian untuk membeli tiket masuk ke Keukenhof. Waktu saya bisa habis seharian di sana. Padahal, ini hari terahir saya di Belanda.

Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Amsterdam dan membeli karcis terusan selama sehari. Dengan tiket ini, dengan membayar 7 Euro, saya bisa turun naik tram dan metro kapan saja. Setiba di Amsterdam Centraal, saya melihat banyak sekali agen perjalanan yang menawarkan canal cruise. Saya masuk ke salah satu agen dan membeli tiket untuk satu jam canal cruise.

Canal Cruise itu dimulai dari satu kanal terletak di depan Amsterdam Centraal. Dari sana, kapal kami meluncur ke laut lepas, melewati jembatan dan masuk ke kanal – kanal kecil. Disini, saya dan turis – turis lainnya disuguhkan pemandangan khas Belanda. Rumah – rumah dengan arsitektur kolonial di sepanjang kanal, jembatan – jembatan dengan lengkungan strukturnya, sepeda – sepeda yang terparkir di mana – mana. Oh ya, di Belanda ini sepertinya hampir semua orang memiliki sepeda. Sepeda merupakan salah satu transportasi utama di sana.

Canal Cruise, Amsterdam, the Netherlands. Pelayaran dimulai dari sini.
Canal Cruise, Amsterdam, the Netherlands. Pelayaran dimulai dari sini.
Canal Cruise, Amsterdam, the Netherlands. Stasiun kereta api Amsterdam Centraal
Canal Cruise, Amsterdam, the Netherlands. Stasiun kereta api Amsterdam Centraal
Saya di atas kapal, berpesiar di sepanjang kanal
Saya di atas kapal, berpesiar di sepanjang kanal

Ketika canal cruise usai, waktu sudah menunjukkan waktu untuk makan siang. Tanpa sengaja, saya menemukan satu restoran Indonesia, bernama Kantjil. Menunya, tentu saja menu Indonesia. Saya yang menganggap makanan Indonesia adalah yang terenak di dunia, langsung memilih menu khas Indonesia. Nasi rendang dan siomay bandung. Untuk informasi restoran, bisa dilihat di website.

Usai makan siang, saya pun memanfaatkan karcis terusan saya. Tujuan saya adalah Istana atau Grand Palace. Wuih,rame sekali di sana. Sepertinya ketika saya datang sedang ada demonstrasi tentang Mesir, karena ada bendera Mesir di sana. Saya tidak paham apa yang mereka demonstrasi kan, karena menggunakan bahasa Belanda. Saya juga tidak terlalu berminat memasuki istana. Yang saya lakukan hanyalah mengambil foto di depan istana dan menonton beberapa atraksi yang dilakukan beberapa orang untuk menarik pengunjung.

Grand Palace, Amsterdam, the Netherlands
Grand Palace, Amsterdam, the Netherlands
Saya di depan Grand Palace
Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.
Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.
Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.
Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.
Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.
Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.

Dari sana, saya kembali naik tram untuk melihat Museum Anne Frank. Oh la la. Lagi – lagi saya mengurungkan niat begitu melihat antrian. Panjang sekali. Akhirnya, saya memutuskan untuk berjalan – jalan di daerah permukiman Jordan, yang tak jauh dari sana. Melihat rumah – rumah kapal, yang saat ini sudah dijadikan restoran dan museum. Saya sempat memotret serumpun bunga tulip di sekitar situ.

Nih, antrian di depan rumah Anne Frank, Amsterdam, the Netherlands
Nih, antrian di depan rumah Anne Frank, Amsterdam, the Netherlands
Kanal di area permukiman Jordan, Amsterdam, the Netherlands
Kanal di area permukiman Jordan, Amsterdam, the Netherlands
Sepeda ada di mana - mana, Asmterdam, the Netherlands
Sepeda ada di mana – mana, Asmterdam, the Netherlands
Serumpun bunga tulip, Amsterdam, the Netherlands
Serumpun bunga tulip, Amsterdam, the Netherlands
Westerkerk, gereja di dekat rumah Anne Frank, Amsterdam, the Netherlands
Westerkerk, gereja di dekat rumah Anne Frank, Amsterdam, the Netherlands

Sisa hari hanya saya habiskan dengan turun naik tram, dari tram satu ke tram lainnya. Saya tidak punya tujuan khusus. Saya hanya ingin melihat pemberhentian terakhir tram sambil melihat pemandangan yang saya lewati selama perjalanan. Selama saya tahu, tram itu akan kembali ke Amsterdam Centraal, saya tidak perlu merasa khawatir akan tersasar.

Empat hari di Belanda, sangat tidak cukup untuk menikmati keindahan negeri tulip. Banyak yang saya lewatkan. Tulip di Keukenhof, desa kincir angina Zaanse Schans, museum Van Gogh dan banyak lagi. Rasanya ingin tinggal lebih lama. Belanda membuat saya betah. Mungkin, karena selama di sana saya melihat banyak sekali komunitas Indonesia. Jadi, saya tidak merasa terlalu asing. Saya harap, suatu saat saya bisa kembali ke sana.

 

2 thoughts on “Canal Cruise di Amsterdam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s