Khasab, Norway of Arabia


Hari masih pagi, dan aku ngantuk abis. Namun, apa daya. Bukannya melanjutkan tidur yang tertunda, aku harus keluar dari pesawat yang sudah mendarat dengan mulus di Muscat untuk melanjutkan perjalanan ke Khasab.

Kesultanan Oman, adalah negara jazirah Arab yang kesekian kalinya, yang aku kunjungi. Bandara di Muscat, biasa aja dan ngga terlalu besaar. Jauh, kalo dibandingkan dengan tetangganya di Dubai. Bagus juga sih, aku ngga perlu pake acara nyasar buat nyari-nyari gate.

Penerbanganku ke Khasab, menggunakan maskapai Oman Air, dipercepat satu jam dari waktu yang ditentukan. Syukur, aku tiba lebih awal, jadi ngga sampe ketinggalan pesawat, dan ngga kelamaan nunggu waktu di ruang tunggu. Setelah duduk selama 30 menit, kamipun dipersilahkan untuk naik ke pesawat. Pesawatnya tidak besar, hanya berisikan kurang lebih 30 penumpang saja. Pesawat pun masih dilengkapi baling – baling, bukannya mesin jet seperti pesawat Boeing.

Aku yang suka paranoid kalo udah urusan terbang mulai cemas, ketika melihat satu baling – baling tidak berputar. Namun, sepertinya hanya aku satu-satunya penumpang yang cemas. Ibu – ibu asal Srilanka di sebelah kelihatannya tenang aja. Si ibu juga udah ngambil posisi enak buat tidur lagi. Penasaran, aku bertanya dengan penumpang yang duduk tepat di depanku.

“Kenapa tuh baling-baling ngga berputar?” tanyaku, setengah mengancam. Seolah-olah penumpang malang ini bertanggung jawab dengan perputaran baling-baling.

“Ngga tau,” katanya datar.

Pesawat mulai jalan. Baling-baling masih belum berputar juga. Keringat mulai bercucuran. Cemas, secemas-cemasnya, sampai aku memutuskan untuk memanggil abang-abang pramugara yang tampangnya Arab banget itu. Tapi, begitu suara mulai sampai di tenggorokan, sang penumpang malang itu berbalik ke arahku, berkata dengan penuh semangat,

“Tuh, lihat. Baling-balingnya udah mutar” kelihatannya dia juga lega. Aku berhasil menularkan kecemasan padanya.

Kami pun terbang menuju Khasab. Khasab ini adalah sebuah kota, bagian dar Kesultanan Oman. Letaknya yang unik, membuatnya tidak bias ditempuh melalui darat tanpa harus melewati negara Uni Emirat Arab. Jalan lain, melalui laut atau udara. Pilihan kedua menjadi pilihanku. Please deh, malas banget  bayar visa UAE hanya untuk bisa melintas saja. By the way, masuk negara Kesultanan Oman, untuk warga negara Indonesia bisa menggunakan visa on arrival saja. Oh ya, aku memutuskan ke Khasab, konon katanya kota ini selain terkenal dengan lumba – lumba dan tempat pelarian warga Dubai untuk menghabiskan weekend, Khasab juga terkenal dengan sebutan sebagai “Norway of Arabia” karena letaknya yang terpencil memiliki celah – celah gunung yang sempit. Mari kita lihat semenarik apakah kotanya.

Khasab, terlihat dari atas pesawat
Khasab, terlihat dari atas pesawat

Aku mendarat di Khasab. Antara ngantuk, bingung dan takjub dengan gunung – gunung pasir yang ada di kanan kiri landasan pacu. Bandara di Khasab, tidak besar sama sekali. Pesawat yang mendarat pun kecil – kecil, dengan ukuran pesawat fokker, twin otter maupun helicopter. Ruang kedatangannya pun sepi karena tidak banyak penumpang. Aku langsung terlihat berbeda di antara para wanita yang menggunakan abaya. Pria-prianya menggunakan baju tradisional terusan panjang. Hanya ada dua kantin kecil di sana. Hotelku, jelas belum menjemput karena aku tiba dua jam sebelum jadwal yang dijanjikan. Mana mungkin aku menunggu selama itu.

Sebuah mesjid di Khasab
Sebuah mesjid di Khasab

Ah, aku pun lupa pula membeli SIM Card Baru. Aku tidak bisa menelepon hotel, dan aku pun tak punya kartu kredit untuk menggunakan telepon umum. Bandara mulai sepi. Tak ada satupun yang bisa kuajak berbicara dalam bahasa Inggris. Penjual di kantin hanya menatapku dengan kosong, ketika aku meminta untuk menggunakan teleponnya, dan akan membayar pulsa yang akan kugunakan. Setengah putus asa, aku mendatangi seorang pria yang tengah berdiri di depan ruang kedatangan. Aku kembali menjelaskan niatku untuk meminjam telepon selulernya.

Kali ini, sang pria sangat kooperatif. Dia menjawab dalam bahasa Arab, hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang dia ucapkan. Dia mengajakku ke satu ruangan, dan ternyata ruangan kepala Bandara. Oh, Alhamdulillah. Allah mengirimkan penolong. Pak Kepala Bandara yang bahasa Inggrisnya sangat lancar,  bukan hanya meminjamkan telepon tapi langsung menelepon hotel tempat aku menginap.

“Tunggulah di depan. Mereka akan segera tiba. Jika dalam lima menit mereka tak datang, kembalilah ke sini. Aku akan menghubungi mereka lagi,” kata pak Kepala bandara. Terima kasih, Bapak. Engkau penlongku.  Tak sampai lima menit, mobil dari hotel tiba untuk menjemputku.

Aku menginap di hotel Diwan Alamir, hotel termurah yang bisa kutemukan di Khasab. Tidak ada hostel maupun budget hotel di kota ini. Khasab memang tak ramah untuk kantong budget traveler seperti aku. Tak ada yang ingin kulakukan selain tidur setiba di hotel. Setelah memesan Dolphin tour (satu – satunya alasanku untuk datang ke Khasab) aku menuju kamar dan langsung tertidur begitu merebahkan badan di tempat tidur. Mandi, urusan belakangan.

Khasab benar – benar sepi. Seperti bandara, kotanya juga dikelilingi bukit pasir. Jalanan aspal nan mulus, namun tak ramai orang. Mungkin, dikarenakan musim panas akan segera tiba bulan depan, membuat orang malas untuk berkeliaran di jalan. Aku menghabiskan sore pertamaku dengan duduk di balkon kamar, mengamati sudut-sudut kota dari kejauhan.

Sebuah benteng di Khasab
Sebuah benteng di Khasab
Jalanan mulus di Khasab. Aspal nya, asli mulus. Ngga berlubang sama sekali
Jalanan mulus di Khasab. Aspal nya, asli mulus. Ngga berlubang sama sekali
Kota Khasab dilihat dari kamar hotel
Kota Khasab dilihat dari kamar hotel

Keesokan harinya, Amir, dari tour company menjemputku. Ahmad, manajer hotel mengucapkan ‘selamat bersenang-senang’ kepadaku. Amir membawaku ke pelabuhan, dimana banyak terdapat perahu – perahu kayu tradisional yang menawarkan paket wisata bagi pengunjung. Aku orang pertama yang tiba di kelompok turku. Sepuluh menit kemudian, satu keluarga asal Perancis tiba dengan dua anak mereka. Tak lama setelahnya sepasang kekasih muncul dan kami siap berangkat.

Pelabuhan di Khasab
Pelabuhan di Khasab

Well, Khasab memang menakjubkan. Buat aku yang lahir dan tinggal di negara tropis, pemandangan bukit dan padang pasir adalah hal yang sangat mengagumkan. Meskipun menurut rekan kerjaku asal Mesir, si Khalid (yang menganggap hujan dan semak belukar hijau sesuatu yang teramat sangat indah) itu adalah sesuatu yang sangat membosankan, aku tak bosan – bosannya memandang bukit pasir yang berjajar di sepanjang laut.

Khasab, the Norway of Arabia
Khasab, the Norway of Arabia
Khasab
Khasab
Khasab
Khasab
Khasab
Khasab
Khasab
Khasab
Nelayan yang tengah memancing di teluk Arab
Nelayan yang tengah memancing di teluk Arab
Khasab
Khasab
Perahu - perahu kayu yang membawa pelancong di Khasab
Perahu – perahu kayu yang membawa pelancong di Khasab

Kapal kami berlayar, mengarungi teluk Arab, melewati selat – selat kecil yang dikepung gunung – gunung tinggi yang besar. Pihak tur membagikan soft drink dan makanan kecil yang tak habis-habisnya kepada kami. Aku bercakap – cakap dengan keluarga Perancis yang ternyata datang khusus dari Dubai untuk melihat Khasab. Tak lama, aku pun sibuk dengan kamera untuk mengabadikan keindahan alam yang tak sering kusaksikan.

Setelah berlayar selama lima belas menit, kami mulai bertemu kawanan lumba – lumba. Baru kali ini kusaksikan lumba – lumba di habitat aslinya. Cepat juga si lumba – lumba ini. Kapal kami sampai menambah kecepatan untuk mengimbangi laju si lumba – lumba. Seru juga kegiatan mencari lumba – lumba ini. Kami terkadang harus berlomba – lomba dengan kapal lain untuk bertemu lumba – lumba, sebelum dia hilang lagi di laut dalam.

Lumba-lumba di Khasab
Lumba-lumba di Khasab
Lumba-lumba di Khasab
Lumba-lumba di Khasab

Sebelum tengah hari, kapal kami berhenti di satu titik. Di sini, kami bisa berenang dan snorkeling untuk melihat keindahan bawah laut, dengan ikan – ikan berwarna warni yang berenang – renang riang. Semua orang turun ke air untuk berenang, selain sepasang kekasih yang tampaknya sang cewek sedang ngambek.

“Ayolah. Masa kau tak mau turun ke air. Kau berenang bersamaku di pantai Jumeirah,” rayu si cowok, yang ternyata seorang pilot maskapai terkenal dari UEA. Si cewek tetap diam. Pak pilot habis sabar.

“Baiklah, aku akan berenang. Aku tak mau menyetir sejauh ini dan tidak memanfaatkan waktu untuk berenang selama di sini” Si cowok ikut nyebur bersama kami.

Tour Khasab
Tour Khasab
Spot snorkeling di Khasab
Spot snorkeling di Khasab
Siapa yang keberatan berenang dengan ikan-ikan cantik ini? Aku, Tidak :-)
Siapa yang keberatan berenang dengan ikan-ikan cantik ini? Aku, Tidak🙂
Siapa yang keberatan berenang dengan ikan-ikan cantik ini? Aku, Tidak :-)
Siapa yang keberatan berenang dengan ikan-ikan cantik ini? Aku, Tidak🙂
Sebelum nyebur ke laut, foto dulu donk
Sebelum nyebur ke laut, foto dulu donk

Usai berenang, kami makan siang di atas kapal. Pihak tur benar – benar sudah memperhitungkan segalanya. Makan siangnya enak. Ada nasi biryani, kari daging, shawarma, salad dan ayam goreng. Nikmat sekali menyantap makan siang di tengah laut sehabis berenang dengan angin sepoi – sepoi. Aku makannya sampai nambah lho🙂

Kapal yang membawa kami berlayar. Penuh dengan makanan juga.
Kapal yang membawa kami berlayar. Penuh dengan makanan juga.

Usai makan, kegiatan mencari lumba – lumba dilanjutkan kembali. Kami pun kembali berkejar – kejaran dengan lumba – lumba dan kapal – kapal lain untuk bisa melihat lumba – lumba lebih jelas. Masih ada satu spot lagi dimana kami bisa berenang. Karena saat itu di laut banyak ubur – ubur, tak satupun dari kami berniat untuk berenang, kecuali Pak Pilot yang tampaknya punya energi tak berkesudahan.  Aku lebih memilih duduk, mengobrol dengan kekasih pak Pilot. Tak lama, Pak Pilot bergabung bersama kami, tampaknya mereka sudah berbaikan karena pak Pilot tersengat ubur – ubur.

2 thoughts on “Khasab, Norway of Arabia

  1. EA.Inakawa

    Luar biasaaa dik…..jangan pernah bilang tak ingin kembali lagi ! pastinya aku tau dikau memang terlahir untuk menjadi Srikandi Petualang, salam sehat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s